Menu Tutup

Kenapa Dakwah yang Disampaikan Ditolak oleh Masyarakat

Dakwah adalah usaha untuk menyampaikan ajaran Islam kepada orang lain, baik yang belum beragama Islam maupun yang sudah. Dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim, sebagaimana firman Allah Subehanahu Wa Ta’ala dalam surat An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl [16]: 125)

Dari ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah, yaitu dengan cara yang bijaksana, sesuai dengan situasi dan kondisi, serta dengan tujuan yang mulia. Dakwah juga harus dilakukan dengan maw’izhah hasanah, yaitu dengan nasihat yang baik, lembut, dan menyentuh hati. Dakwah juga harus dilakukan dengan jidal bil-lati hiya ahsan, yaitu dengan berdebat atau berdialog dengan cara yang baik, santun, dan berdasarkan dalil yang kuat.

Namun, meskipun kita sudah berdakwah dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Islam, tidak selalu dakwah kita diterima oleh masyarakat. Ada beberapa faktor yang menyebabkan dakwah yang disampaikan ditolak oleh masyarakat, meskipun yang kita sampaikan adalah hal yang benar. Berikut adalah beberapa faktor tersebut:

1. Faktor dari diri sendiri.

Sebagai seorang da’i, kita harus memiliki kredibilitas, kompetensi, dan konsistensi dalam berdakwah. Kredibilitas berarti kita harus memiliki akhlak yang baik, amanah, dan jujur, sehingga orang lain dapat mempercayai kita. Kompetensi berarti kita harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang cukup, sehingga orang lain dapat menghargai kita. Konsistensi berarti kita harus berdakwah sesuai dengan apa yang kita yakini, ucapkan, dan lakukan, sehingga orang lain dapat mengikuti kita. Jika kita tidak memiliki faktor-faktor ini, maka dakwah kita akan mudah ditolak oleh masyarakat, karena mereka akan meragukan kebenaran dan kebaikan yang kita sampaikan.

2. Faktor dari penerima dakwah.

Setiap orang memiliki latar belakang, pemahaman, dan kepentingan yang berbeda-beda. Ada orang yang sudah terbiasa dengan kehidupan yang sesat, ada orang yang sudah terikat dengan kepentingan dunia, ada orang yang sudah terpengaruh dengan pemikiran yang salah, dan ada orang yang sudah memiliki keyakinan yang kuat. Oleh karena itu, tidak semua orang akan mudah menerima dakwah yang kita sampaikan, meskipun itu adalah hal yang benar. Ada orang yang akan menolak, mengabaikan, atau bahkan memusuhi dakwah kita, karena mereka merasa terancam, tersinggung, atau tidak setuju dengan dakwah kita. Untuk itu, kita harus bersabar, bijaksana, dan berhati-hati dalam berdakwah, agar tidak menimbulkan konflik atau permusuhan.

3. Faktor dari lingkungan.

Lingkungan juga berpengaruh terhadap penerimaan dakwah yang kita sampaikan. Lingkungan di sini mencakup budaya, adat istiadat, tradisi, norma, hukum, dan kekuasaan yang ada di masyarakat. Ada lingkungan yang mendukung dakwah, ada yang netral, dan ada yang menentang dakwah. Jika lingkungan mendukung dakwah, maka dakwah kita akan mudah diterima oleh masyarakat, karena mereka akan merasa nyaman, aman, dan dihargai. Jika lingkungan netral, maka dakwah kita akan membutuhkan usaha yang lebih, karena kita harus meyakinkan, menarik, dan memberi manfaat kepada masyarakat. Jika lingkungan menentang dakwah, maka dakwah kita akan sulit diterima oleh masyarakat, karena mereka akan merasa terganggu, tertekan, dan didiskriminasi. Untuk itu, kita harus beradaptasi, berkolaborasi, dan berinovasi dalam berdakwah, agar dapat mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa dakwah yang disampaikan ditolak oleh masyarakat bukan karena dakwah itu salah, tetapi karena ada faktor-faktor yang menghalangi dakwah itu diterima. Oleh karena itu, kita sebagai seorang da’i harus terus berusaha untuk meningkatkan kualitas diri, memahami kondisi penerima dakwah, dan mengubah lingkungan menjadi lebih kondusif untuk dakwah. Semoga Allah Subehanahu Wa Ta’ala memberi kita taufik, hidayah, dan barakah dalam berdakwah. Aamiin.

Postingan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *